Sabtu, 24 Juni 2017 | 00:34 WIB

TEMPO/Tony Hartawan
TEMPO.CO, Tangerang Selatan - Perempuan berusia 41 tahun ini adalah potret dokter bertarif murah di pinggiran Jakarta. Kemapanan ekonomi membuatnya memilih âmisi kemanusiaanâ ini untuk masyarakat sekitar rumahnya yang ada di Kompleks Bukit Nusa Indah, Ciputat, Kota Tangerang Selatan.
âTujuannya memang untuk menolong orang karena masyarakat di sini rata-rata menengah ke bawah,â tuturnya kepada Tempo, pertengahan Mei lalu. Dokter umum alumnus Universitas Andalas, Padang, itu rata-rata hanya memungut biaya Rp 15 ribu per orang untuk sekali pengobatan termasuk obat.
Tapi nyatanya bukan cuma yang miskin yang datang. Mereka yang tergolong mapan juga tak sungkan datang berobat kepadanya. Yuli tak ambil pusing. Buatnya semua adalah saudara. Cuma tenaga yang kini membatasi pelayanannya. âKalau dulu saya masih sanggup meladeni banyak pasien, sekarang sudah dibatasi dengan waktu,â katanya.
Toh jumlah pasien tetap mengular hampir setiap hari. Bagi yang ingin berobat siang harus mengambil nomor antrean sejak pukul 09 sampai pukul 14. Sedangkan bagi yang ingin berobat pagi, pasien bisa mengambil nomor antrean pada pukul 22-03.
Mereka juga datang tak cuma dari kampung sekitar perumahan sang dokter. Ini seperti Euis Rahmawati. Perempuan berusia 27 tahun itu datang dari kawasan Bintaro. âSelain biaya berobat yang terjangkau, obat yang diberikan juga cocok,â katanya sambil menambahkan biaya berobat anaknya yang sakit panas paling mahal hanya Rp 30 ribu.
Saat ini di era layanan kesehatan gratis dengan BPJS, antrean pasien di rumah praktek mantan dokter puskesmas ini tak berkurang. âBapak saya sampai saat ini masih berobat di sini. Sampai kenal dengan dokternya,â ujar Euis.
Â
MUHAMMAD KURNIANTO
